berkecamuk.

Perjalanan gua sebagai manusia, ya. Kepala rasa mau meledak dipenuhi pertanyaan tentang berbagai macam hal, dari mulai yang sederhana sampai rumit.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul ini akan gua bahas di tulisan kali ini. Pertanyaan ini mungkin ada di kepala siapa pun.

Gini, kita diciptakan dan dilahirkan ke Bumi dipilihkan peran oleh Tuhan sebagai manusia.

Untuk apa?

Bukan itu sebenarnya pertanyaannya. Gua lagi digalaukan soal inti hidup. Ya, kali manusia mikirin cuma soal,  kuliah, kerja, komunitas, kawin, ko’it (dibaca: mati).

Manusia terlalu receh untuk membicarakan hanya sebatas itu.

Kita diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan.

Tapi, manusia terlalu klisye membahas tentang itu.

Manusia sudah memiliki “fitrah” untuk mencariNya, mendekatiNya, mempertanyakanNya, menguji kebenaranNya, sampai akhirnya kita men-cintaiNya, mem-percayaiNya sampai ditahap meng-imaniNya.

Kata orang. Cinta memproduksi Kepercayaan. Nah, simpulnya. Untuk kita mempercaiNya sampai meng-imaniNya kita harus mulai dari…

CINTA.

Tapi beda dengan cinta pada hal material (bersifat empiris).

Cinta kepada suatu yang tidak nyata itu sulit dipahami. Sehingga muncul pencarian dan berbagai pertanyaan.

Katanya, kalau mau mendekati Tuhan kita harus “menjauhkan” hal yang bersifat material (bersifat empiris).

Gue mikir. Lah mana bisa!!!

Gue dilahirkan di Bumi ya kosa kata tingginya DUNIA. Dunia ini material. Gue berbentuk fisik, cewe berbentuk fisik, duit itu fisik, tanah itu fisik, jabatan itu fisik. semua persoalan duniawi mempersoalkan materi alias fisik. Orang pusing mikirin cewe, orang pusing mikirin duit, orang pusing mikirin jabatan, orang pusing mikirin tanah. begitupun berlaku jika kata pusing diganti dengan kata seneng: orang seneng mikirin cewe, orang seneng mikirin duit, orang seneng mikirin jabatan, orang seneng mikirin tanah.

Jadi, mana bisa manusia lepas dari dunia? Menunggu setelah mati untuk bisa dekat dengan Tuhan? tadinya gue mikir gitu.

((Pertanyan ini muncul begitu sering setelah gue memutuskan untuk tidak dan berhenti mendekatiNya. (setahun lalu). Gue mulai untuk jarang solat, tapi merasa tetap islam, tapi kurangajar, tapi bingung, tapi tetap mencari, tapi tetep kurangajar. ribet si gua juga ga ngerti sama dirir ini (perlu banyak balajar mencari makna lebih dari ini))

Bagaimana cara mendekati Tuhan dengan memisahkan diri kita dari dunia, tanpa menghindari dunia yang masih menjadi bagian dari diri ini.

Tuhan itu lucu. Rasa dan Tanya ini muncul dalam hati dan Dia menitipkan akal untuk selalu mempertanyakan dan menganalisa.

Sumpah pada akhirnya gua ga nemuin jawaban pasti. Karena gua juga bingung, tolol, bego, dan gatau lagi sebutannya apa.

sekian.

 

 

Kita Kampungan

Kalau ngomongin masalah diskrimiasi ras, etnis, agama, minoritas dan sebagainya, memang gaada abisnya. Mungkin akan menjadi isu sosial yang memang sudah harus ada.

Misal nih, kalau melihat orang yang berpenampilan aneh (yang dimaksud aneh kan hanya karena berbeda dari kita), kemudian warna kulit berbeda, agama berbeda, pasti deh perilaku dan reaksi kita ke orang tersebut berbeda denga orang yang sama dengan kita. “kita kampungan” ya menurut gue sih itu. “kita kampungan” istilah yang gue pake bukan bermaksud sara atau menegatifkan kosa kata “kampung”, tapi ini istilah gue pake untuk mengungkapkan bahwa kita benar-benar, ga bisa menerima hal baru.

Contoh sederhana nih, pasti dalam lingkungan lo atau temen lo ada yang suka kayak gitu. Kalau ada bule (kulit putih), mereka akan bertindak seperti melihat malaikat, ramah, senyum dan gimana gitu. Tapi, kalo ada negro (kulit hitam), mereka akan diam-diam ketawa, berkata “item amat tu orang” dan sebagainya. Ini nih dasar dari diskriminasi ras!

Contoh lain, Agama. Hmmm gue ga mau bandingin Islam, Kristen, atau yang lain. Dalam Islam aja deh, misal ada yang berbeda dalam beribadah, yang satu kalo solat subuh pake qunut yang lain engga, terus jadinya, “ih gue gamau solat disitu, gapake qunut”, dan masih banyak contoh lainnya.

OKE.

STOP melihat orang dari yang terlihat. Simbolnya, Identitasnya, Orangnya.

Karena yang penting, akhlaknya. Ciyeeee akhlak. Bukan! maksud gue, perilaku. Ya, karena ‘akhlak’ tingkatannya tinggi banget dari segi bahasa. Terpenting melihat manusia bukan dari luarnya, tapi hatinya, otaknya dan perilakunya.

Peduli amat lo putih, tapi lo tukang nynyir kalo ada temen lo yang item. RASIS LO!

Penting ngga lo berkata….

“eh lo pake baju ga nyambung deh!”

“eh lo gapernah mandi ya, dekil amat!”

“Baju lo beli di pasar ye, ngejreng amat warnanya!”

“Ih, ketutup banget kerudungnya, teroris dia!”

“Item banget sih lo, kebanyakan main layangan ya kecilnya”

See? Kasar kan ya?

Bisa jadi lo menyakiti hati orang tersebut, membuatnya mereka merasa minder.

 

“Merendahkan orang lain gabisa bikin lo tinggi, malah lo yang kelihatan rendah!”

ansos.

Gua ansos?

Ya gitu kali ya? Banyak yang bilang gua ansos, sebenernya macam bukan ansos sih.

Mungkin karena gua bukan tipe orang yang bisa bergaul, susah memulai pembicaraan dengan temen atau orang baru, sulit ngeblend di suatu lingkungan, menghabiskan waktu lama banget sama temen-temen kayak semacam ga tahan pengen kabur aja gitu, terus lama bales chat, jarang angkat telfon, lebih suka spending time sendiri, jalan sendiri nonton livemusic sendiri, ngerjain tugas paling enak tugas individu, daaan sebagainya.

Enaknya sebut aja Introvert.

Gua pernah ikutan semacam test, 16personalities, di https://www.16personalities.com, website tersebut semacam test buat mengetahui kepribadian lo gitu. Berhubung gua tu anaknya kepo, ya maklum lagi umur-umurnya pencarian jati diri yekan, ingin mengetahui diri sendiri kayak gimana. So, jadi gua buka dan ikut testnya.

Bla bla bla, singkat cerita gua dinyatakan INFP oleh website tersebut. Nah, masuknya berarti introvert juga kan. Kepanjannganya Introversion (I), Intuition (N), Feeling (F), Perception (P). Jadi kalo public figure yang dinyatakan sebagi INFP yaitu William Shakespeare, Lady Diana, atau juga Bunda Maria atau Siti Maryam. Lebih lanjutnya bisa lihat di websitenya.

Honestly sih, gua enjoy-enjoy aja jadi introvert. Introvert beda ya sama kesepian, karena gua masih bisa ngehabisin banyak waktu di smallgroup gitu, kalo udah cocok ngobrol sama si ini atau si itu, pasti bisa ngobrolin hal dari A sampe Z sepanjang hari atau sepanjang malam.

Ada nih suatu lingkungan, misal. Kumpulan itu macam tukang nyinyir, ngobrolin hal yang menurut gua si gaada faedahnya, topik sampah yang ngga seru buat gua secara personal, macam engga klik lah. Itu pasti gua lebih semacam ya bentar doang ngobrol, abistu pergi cabut ngapain kek, ngelakuin yang gua suka macam gambar, nonton atau lari (sendiri). Nah di kampus tu bener-bener kayak desperate gitu, karena ngga bisa nemuin yang bisa diajak diskusi hal yang lebih dalam. Eh tapi ada sih satu dua orang yang bisa diajak ngobrol dalam. Atau mungkin guanya yang ngga open, gatau lah pokoknya kayak gitu, bingung lah sama diri sendiri, maklum hilang arah.

Sebenernya, gua udah sempet hampir masuk di salah satu unit di kampus tapi macam gagal pas pendidikan karena gua masih begitu lemah, terus ikut komunitas diplomasi di fakultas tapi ga sampe inagurasi udah mager duluan.

Nah, terus di semester 5. Mulai tuh mencoba hal baru, sebagai introvert yang sulit ngeblend dan cenderung depressed akibat ga punya temen (agak berlebihan yak hah). Gua mulai coba cari kegiatan di luar kampus, pertama ikut event-volunteering, terus gabung di suatu komunitas lingkungan hidup (green-community). Dan itu membantu banget buat belajar ber’sosialisasi’, karena gua anaknya ansos yang pada satu sisinya memiliki niat kuat ‘ngga boleh gini terus, belajar lah bersosial’. hmm, belajar mulai berani ngobrol sama orang dan sebagainya. Finally sekarang gue bisa memposisikan diri saat gua harus bersosial kapan harus introvert.

2017 NULIS LAGI ( dan LAGI)

Okay, gua sekarang beneran mau coba nulis.

Jadi tu, gua dulu pernah coba beberapa kali postingan, dari curhatan (*eh kok lakilaki suka curhat haha gapapalah), kemudian pemikiran dan opini dari isu tertentu tapi lebih ke isu sehari-hari sih bukan politik atau komentar terhadap apa yang terjadi di media. Cuma semacam entah malas nulis atau apa ya. Tapi, sekarang mau coba nge-blog sampah ga berfaedah lagi deh (lagi dan lagi). BTW, postingan gua yang sebelumnya udah gua hapus karena semacam, ya gitu deh gapenting, wakwakwa.

Ini blog gaada tujuan juga sih sebenernya, just for having fun especially for myself aja, dan ga butuh viewers juga. Karena menurut gue, gue perlu ngelatih mengungkapkan sesuatu dalam tulisan sekalipun itu ga berfaedah. Gue cenderung introvert gitukan, jadi harus jadi introvert sesungguhnya (haha), mengungkapkan sesuatu ga harus pake mulut, lewat tulisan kan ugha bisa yekan.

Cara seseorang menumpahkan rasa atau pikiran kan banyak medianya ya, yang orangnya artsy  gitu bisa lewat lukisan, yang anaknya musicable bisa lewat karya musik atau nyanyi, dan juga nulis. Sebenernya gua semacam ga begitu suka nulis, tapi apalah ga repot-repot banget sih kalo nulis, kaya macam hal mudah. Soklah atuh just do it. Ceegitu.

See next post.